Berita Terkini

Sejarah Pemilu 1955: Pemilu Paling Demokratis dalam Sejarah Indonesia

Wamena - Bayangkan, sepuluh tahun setelah kemerdekaan, rakyat Indonesia akhirnya dapat memilih wakilnya sendiri lewat Pemilu 1955, yang sering disebut paling demokratis karena partisipasinya tinggi sekali dan sistemnya adil. Ini bukan cuma soal kotak suara, tapi tonggak awal bangsa kita belajar demokrasi parlementer di tengah kondisi politik yang masih goyang-goyang pasca-revolusi.​

Buat kita di KPU, cerita Pemilu 1955 jadi pelajaran berharga soal bagaimana selenggarakan pemilu di negeri yang luas dan beragam, dari Sabang sampai Merauke, meski infrastruktur minim. Hasilnya nunjukin keragaman partai, tanpa satu pun yang dominan, yang bikin parlemen hidup tapi juga tantangan buat pemerintahan stabil. Ini kisah inspiratif buat kita yang lagi dorong partisipasi tinggi di Papua Pegunungan.​

 

Apa Itu Pemilu 1955?

Pemilu 1955 adalah pemilihan umum pertama di Indonesia pasca-kemerdekaan, diadakan dua tahap: 29 September buat pilih 260 anggota DPR, dan 15 Desember buat 514 anggota Konstituante yang tugasnya bikin UUD baru. Dasar hukumnya UU No.7/1953 yang diubah UU No.18/1953, plus PP No.9/1954, bikin prosesnya transparan dan inklusif.​

Pesertanya luar biasa banyak: 118 buat DPR (36 partai, 34 Ormas, 48 independen) dan 91 buat Konstituante. Tingkat partisipasi capai 92,5% dari 43 juta pemilih terdaftar, rekor yang susah dilupain. Sistem proporsional dengan 16 dapil memastikan setiap daerah kebagian kursi minimal 3 buat DPR dan 6 buat Konstituante.​

Pemilu ini lahir dari komitmen bangsa muda buat demokrasi, meski diwarnai kabinet berganti-ganti seperti Wilopo, Ali I, dan Burhanuddin Harahap. Jadi, bukan cuma event, tapi pesta demokrasi pertama kita.​

 

Latar Belakang dan Kondisi Politik Indonesia Saat Itu

Latar belakang Pemilu 1955 berawal dari Maklumat X tahun 1945 yang dorong partai politik tumbuh buat siapin pemilu. Tapi, pasca-kemerdekaan, Indonesia masih sibuk revolusi fisik lawan Belanda, plus pemberontakan DI/TII dan PRRI yang bikin kondisi rawan. Pemerintah liberal di bawah UUD Sementara 1950 akhirnya sepakat adain pemilu buat legitimasi parlemen.​

Politik saat itu penuh koalisi rapuh, kabinet jatuh bangun, dan ekonomi morat-marit gara-gara inflasi tinggi. RUU Pemilu diajukan November 1952, debat 18 minggu di DPR, baru disahkan April 1953. Kondisi keamanan belum stabil, tapi semangat rakyat kuat, bikin pemilu tetap jalan meski logistik susah di pelosok.​

Intinya, Pemilu 1955 jadi jawaban atas tuntutan rakyat yang capek dengan DPR hasil angkat presiden, pengen wakil asli dari suara langsung.​

 

Daftar Partai Politik Peserta Pemilu 1955

Peserta Pemilu 1955 beragam sekali, total puluhan partai nasional dan lokal yang wakilin spektrum ideologi dari nasionalis, Islam, sosialis, sampai komunis. Empat besar: PNI (nasionalis Soekarnois), Masyumi (Islam modernis), NU (Islam tradisional), dan PKI (kiri radikal). Lainnya seperti PSI, Parkindo, Partai Katolik, PSII, tambah Ormas dan independen.​

Buat DPR, PNI nomor satu dengan 22,32% suara, Masyumi 20,92%, NU 18,41%, PKI 16,36%. Partai kecil seperti PSI 1,99%, Parkindo 2,66%, Katolik 2,04%. Buat Konstituante, pola mirip: PNI 23,97%, Masyumi 20,59%, dll. Keragaman ini nunjukin betapa pluralnya politik Indonesia waktu itu.​

Daftar panjang ini termasuk partai daerah seperti Partai Persatuan Dayak, bikin pemilu wakilin suara lokal juga. Total 37 juta suara sah dari 40 juta yang ikut.​

 

Proses Penyelenggaraan dan Tahapan Pemilu 1955

Prosesnya dimulai kampanye sengit berbulan-bulan, dengan partai pakai rapat umum, spanduk, dan pidato di alun-alun. Panitia Pemilu Pusat (PPU) kelola logistik, cetak surat suara jutaan lembar meski kertas impor susah. Tahap pertama 29 September pilih DPR, tahap kedua 15 Desember buat Konstituante, dua bulan kemudian.​

Pencoblosan manual, TPS sederhana di sekolah atau balai desa, pengawasan ketat biar tidak curang. Penghitungan manual di tingkat desa naik ke pusat, hasil diumumkan berbulan-bulan kemudian. Meski ada gangguan cuaca dan pemberontakan, partisipasi tinggi, termasuk wanita dan pemuda yang baru 18 tahun atau nikah.​

Tahapan lengkap dari daftar pemilih sampai sidang istimewa DPR hasilkan parlemen baru, bukti penyelenggaraan matang di era baru.​

 

Hasil Pemilu 1955: Siapa Pemenangnya?

Hasil DPR: PNI 57 kursi (22,32%), Masyumi 57 (20,92%), NU 45 (18,41%), PKI 39 (16,36%), PSII 8, Parkindo 8, Katolik 6, PSI 5, sisanya kecil-kecilan. Total 257 kursi efektif. Buat Konstituante: PNI 119 (23,97%), Masyumi 112 (20,59%), NU 91 (18,47%), PKI 80 (16,47%). tidak  ada mayoritas mutlak, koalisi jadi kunci.​

Tingkat kehadiran 92,5%, suara sah 37,7 juta dari 43 juta pemilih. PKI naik pesat dari basis buruh-petani, sementara Islam terpecah Masyumi-NU. Hasil ini wakilin pluralisme bangsa, tapi bikin Konstituante gagal sepakat UUD baru.​

Pemenang utama sebenarnya demokrasi itu sendiri, bukti rakyat bisa pilih bebas.​

 

Dampak Pemilu 1955 terhadap Sistem Politik Indonesia

Dampaknya besar: lahir DPR dan Konstituante hasil langsung, akhiri era DPR angkat presiden. Tapi, fragmentasi partai bikin kabinet mudah jatuh, 7 kabinet dalam 4 tahun, sampai Burhanuddin Harahap yang inisiasi pemilu.​

Konstituante bubar 1959 gara-gara debat Pancasila vs Islam, picu Dekrit Presiden Soekarno 5 Juli 1959, balik ke UUD 1945 dan DPR-GR diangkat. Pemilu ini tutup era Demokrasi Liberal, buka jalan Demokrasi Terpimpin.​

Secara positif, tanam benih partisipasi rakyat dan sistem multipartai yang kita pakai sampai sekarang.​

 

Mengapa Pemilu 1955 Dianggap Paling Demokratis?

Paling demokratis karena partisipasi 92,5%, tertinggi sepanjang sejarah, wakilin suara rakyat asli tanpa manipulasi besar. Sistem proporsional adil, banyak peserta, hak pilih luas (18+ atau nikah), dan penyelenggaraan independen meski negara muda.​

tidak ada satu partai dominan, paksa kompromi dan musyawarah, sesuai semangat bangsa. Meski gagal stabilin politik, bukti demokrasi bisa jalan di negeri beragam seperti kita. Buat KPU modern, standar emas ini inspirasi tingkatkan trust pemilu.​ Warisannya: demokrasi bukan cuma ritual, tapi pesta rakyat yang bikin bangsa kuat.

Belajar dari Pemilu 1955, kita diingatkan bahwa demokrasi yang berkualitas lahir dari semangat gotong royong penyelenggara dan kesadaran penuh rakyat. Kisah sukses di masa lalu ini bukan untuk dikenang saja, tetapi untuk ditiru semangatnya. Sebagai penyelenggara pemilu di tanah Papua, KPU Kabupaten Lanny Jaya berkomitmen untuk menjadikan setiap pemilu sebagai 'pesta rakyat' yang jujur, adil, dan mampu menjangkau semua golongan, meneruskan warisan positif dari pemilu pertama kita.

Baca Juga: Keunikan Suku Bauzi: Dari Rumah di Tepian Sungai hingga Tradisi Berburu Buaya

Bagikan:

facebook twitter whatapps

Telah dilihat 288 kali