Berita Terkini

Literasi Digital Adalah: Pengertian, Contoh, Tujuan, Pilar, dan Manfaatnya

 

Wamena - Dalam dunia yang semakin maju dengan teknologi internet dan perangkat digital yang semakin mudah diakses, literasi digital menjadi kemampuan penting yang harus dimiliki setiap individu. Literasi digital secara umum dapat dipahami sebagai kemampuan seseorang untuk menggunakan teknologi digital, baik berupa perangkat keras seperti komputer dan ponsel pintar, maupun perangkat lunak serta jaringan internet, secara bijaksana, efektif, dan aman. Literasi digital bukan hanya soal bisa mengoperasikan alat, tetapi juga kemampuan untuk mencari, mengevaluasi, memahami, mengelola, serta menyebarkan informasi melalui media digital dengan kritis.

Memiliki keterampilan literasi digital berarti seseorang mampu berpikir kritis terhadap setiap informasi yang ditemukan di dunia maya, melindungi privasi dan data diri, serta menggunakan teknologi untuk tujuan produktif dan positif. Sehingga, literasi digital menuntut keseimbangan antara kemampuan teknis dan sikap bertanggung jawab dalam menggunakan teknologi sehingga dapat menyaring informasi yang valid dari yang palsu dan menghindari bahaya seperti hoax, penipuan, dan kejahatan dunia maya.

Pengertian Literasi Digital Menurut Ahli / Instansi Resmi

Menurut Devri Suherdi dalam bukunya “Peran Literasi Digital di Masa Pandemik” (2021), literasi digital mencakup pengetahuan dan keterampilan dalam memanfaatkan media digital seperti alat komunikasi dan jaringan internet secara efektif dan cerdas. Ia menekankan aspek kemampuan menemukan, mengevaluasi, menggunakan, serta menciptakan konten digital dengan bijak.

Sementara Paul Gilster, seorang pakar literasi digital, mendefinisikan literasi digital sebagai kemampuan memahami dan menggunakan informasi dalam berbagai format yang disajikan melalui komputer. European Commission menambahkan bahwa literasi digital melibatkan kemampuan individu dalam menggunakan teknologi digital untuk mencari, mengevaluasi, dan mengelola informasi serta memahami etika dan keamanan digital.

Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia juga mensosialisasikan empat pilar literasi digital sebagai fondasi untuk membangun masyarakat digital yang cerdas dan bertanggung jawab, yakni Digital Skills (Kecakapan Digital), Digital Safety (Keamanan Digital), Digital Ethics (Etika Digital), dan Digital Culture (Budaya Digital).

Contoh Literasi Digital dalam Kehidupan Sehari-hari

Literasi digital dapat kita lihat secara nyata dalam berbagai aktivitas sehari-hari, seperti saat menggunakan ponsel pintar untuk mencari informasi yang akurat, mengirim email, atau bertransaksi secara online dengan aman. Ketika masyarakat menggunakan media sosial untuk menyebarkan informasi, literasi digital mengajarkan mereka untuk memeriksa kebenaran berita dan sumbernya sebelum membagikan agar tidak menyebarkan hoax.

Contoh lain adalah kemampuan menggunakan aplikasi pembelajaran online di masa pandemi, yang menuntut pengguna untuk memahami cara mengoperasikan teknologi tersebut dan menjaga etika komunikasi daring. Selain itu, masyarakat yang mengerti pentingnya menjaga privasi dan mengamankan akun media sosialnya juga merupakan wujud dari praktik literasi digital yang baik.

Tujuan Literasi Digital

Tujuan utama literasi digital adalah membekali masyarakat dengan kemampuan dan kesadaran dalam mengakses, menggunakan, serta berinteraksi dengan teknologi digital secara aman dan efektif. Literasi digital bertujuan untuk meningkatkan kemampuan masyarakat agar mampu memilah informasi yang benar dari yang salah, serta mendorong pemanfaatan teknologi untuk kegiatan yang produktif dan inovatif.

Dengan literasi digital yang kuat, diharapkan mampu membangun kesadaran akan risiko digital sekaligus etika penggunaannya. Selain itu, tujuan lainnya adalah menciptakan budaya digital yang sehat dan mendukung pertumbuhan ekonomi digital serta mewujudkan masyarakat yang inklusif dan partisipatif dalam era teknologi.

Empat Pilar Literasi Digital Menurut Kominfo

Program nasional Literasi Digital Siberkreasi dari Kementerian Komunikasi dan Informatika mengusung empat pilar utama sebagai fondasi pemahaman literasi digital, yaitu:

  1. Digital Skills (Kecakapan Digital): kemampuan teknis menggunakan perangkat teknologi dan aplikasi digital secara efektif.

  2. Digital Safety (Keamanan Digital): pemahaman mengenai keamanan data pribadi, perlindungan dari kejahatan digital, dan etika keamanan daring.

  3. Digital Ethics (Etika Digital): sikap dan nilai yang mengatur perilaku pengguna digital agar bertanggung jawab dan menghormati hak orang lain.

  4. Digital Culture (Budaya Digital): pengembangan sikap yang mendukung interaksi positif dan adaptasi budaya baru dalam penggunaan teknologi digital.

Keempat pilar tersebut harus dikuasai oleh setiap pengguna teknologi untuk menciptakan masyarakat digital yang sehat, aman, dan produktif.

Manfaat Literasi Digital di Era Teknologi

Literasi digital memberikan banyak manfaat bagi masyarakat modern seperti meningkatkan efisiensi komunikasi dan akses informasi, memfasilitasi pembelajaran jarak jauh, serta mendukung inovasi dan peluang ekonomi digital. Selain itu, dengan literasi digital yang baik, seseorang mampu menghindari risiko penyebaran hoax, penipuan, serta pelanggaran privasi yang marak terjadi di dunia maya.

Manfaat lain yang penting adalah membantu terciptanya partisipasi aktif masyarakat dalam berbagai aspek sosial, politik, dan budaya melalui media digital. Literasi digital juga mendukung pengembangan kreativitas dan kemampuan problem solving yang sangat relevan di era Revolusi Industri 4.0.

Tantangan Literasi Digital di Indonesia

Meski penting, literasi digital menghadapi berbagai tantangan serius di Indonesia, seperti kesenjangan akses teknologi antara daerah perkotaan dan pedesaan, tingkat pendidikan yang berbeda-beda, serta masih rendahnya kesadaran keamanan digital di kalangan pengguna. Selain itu, maraknya informasi palsu dan ujaran kebencian di ruang digital menjadi ancaman nyata bagi kebersihan dan kesehatan lingkungan digital.

Upaya penanggulangan tantangan ini memerlukan kolaborasi antara pemerintah, pendidikan, komunitas, dan sektor swasta dalam membangun infrastruktur, meningkatkan kapasitas masyarakat, serta menyediakan konten edukasi yang relevan dan mudah diakses.

Baca Juga: Pemilih Rasional adalah Kunci Demokrasi Berkualitas: Pengertian dan Perbedaannya

Bagikan:

facebook twitter whatapps

Telah dilihat 3,276 kali